Kendala Belajar Jarak Jauh di Rumah, Kendala Belajar Online

Sejak merebaknya wabah Corona di Indonesia Akhir Februari 2020 mengakibatkan banyak imbas tak terkecuali sekolah. Pada 12 Maret 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) baru menerbitkan dua surat edaran terkait pencegahan dan penanganan Covid-19. Yang pertama, surat edaran Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di lingkungan Kemendikbud. Sekolah sebagai tempat belajar dan padat massa sangat diharuskan untuk ikut Social Distancing.

Libur sekolah diharuskan untuk mencegah penularan ke sekolah. Libur sekolah tiba tiba mulai tanggal 16 Maret 2020 tanpa persiapan. Perintah yang tiba tiba membuat shock karena tidak adanya persiapan untuk pengelolaaan belajar jarak jauh, bagaimana caranya dan polanya. Akhirnya guru hanya memberi tugas via WA Tidak semua siswa mempunyai laptop atau SmartPhone, barang mahal yang juga harus ada paket internet tentu saja tidak gratis. Belum lagi suasana rumah tidak kondusif, misalnya gangguan dari adik kecilnya merebut Smartphone atau laptopnya. 

Ada cukup banyak keluhan guru selama kegiatan belajar-mengajar dilakukan di rumah saat pandemi virus Corona (COVID-19). Beberapa guru mengalami kendala keterbatasan sarana hingga tidak ada contoh praktis pembelajaran jarak jauh. Pada awal awal minggu pertama guru memberikan banyak tugas via WA group.

Tugas tugas siswa di rumah banyak dan sehingga orang tua juga ikut repot membimbing di rumah. Siswa yang malas dan tidak mandiri semakin malas dan mencari upaya untuk mencari jawaban dari teman via WA, jawaban di dapat atas kesetiakawanan.

Dan guru dengan rela hati mengoreksi satu persatu jawaban siswa . Waktu dan tenaga lebih ekstra . Bahkan guru merasa belajar dengan langsung tatap muka akan lebih mudah menyampaikan materi. Tanya jawab dua arah memberikan hubungan sosial langsung . Guru juga dibuat bingung , siswa yang biasanya nilainya jelek saat ulangan di sekolah dan sulit menerima pelajaran justru nilainya bagus dan banyak benar ketika mengerjakan soal via online yang dikirim nya. Padahal maksudnya nilai tugas online untuk tambahan isi raport. Waduh…… bisa salah sasaran nilai raportnya. Rencana pemerintah pembelajaran sekolah dan ujian online dari rumah selama wabah Covid19 bisa digunakan untuk mengisi nilai raport dan tambahan nilai kelulusan tanpa UN.

"Ada 3 area pokok yang sering diperdebatkan atau dikeluhkan guru. Pertama adalah bagaimana guru bisa merancang sebuah program pembelajaran yang baik. Yang kedua, kalau rancangan yang sudah ada, maka aspek materi atau kontennya seperti apa," kata Direktur GTK Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Praptono, dalam konferensi videonya, Selasa (31/3/2020).
"Dan ternyata memang guru itu tidak cukup dengan rancangan dan konten tapi masih banyak kita dapati guru kita itu membutuhkan contoh-contoh baik, contoh-contoh yang praktis," sambungnya.

Plus Minus Belajar Jarak Jauh(Daring/online) dan Tatap Muka


Kelebihan belajar online di beberapa negara maju seperti Amerika mempunyai performa yang baik, juga melatih kedisiplinan kemandirian tanggung jawab dan kejujuran. Disamping itu tidak terikat akan jarak menempuh perjalnanan dan waktu dan kebutuhan fisik seperti ruangan kelas, bangku dan sarana lainnya. Namun kekurangan belajar online kadang dipengaruhi mood dan gangguan di rumah, tidak akan berhasil untuk siswa yang malas, tidak disiplin tidak mandiri dan curang dalam ujian. Siswa yang tidak mempunyai motivasi akan cenderung gagal.

Kelebihan belajar Tatap Muka ialah standardisasi Materi, pembinaan hubungan sosial yang baik, interaksi siswa dan guru langsung terfokus dan terawasi oleh guru. Guru bisa langsung membimbing saat itu juga. Dan guru akan bisa langsung memotivasi murid. Untuk murid yang malas dan kurang mandiri mudah termotivasi karena rasa segan. Yang jelas belajar langsung mempunyai nilai plus pada aspek sosial.